Cerita Ting Gegenting Pernahkah kamu mendengar tentang Ting Gegenting? Dalam bahasa rakyat dahulu, “ting” berarti menara kecil dan “gegenging” berarti rapuh atau mudah pecah. Meski tampak kokoh, ternyata sesuatu yang berdiri tinggi di atas dasar yang rapuh, mudah runtuh.
Cerita ini berasal dari sebuah desa tua di kaki gunung, yang dulunya terkenal dengan menara bambunya yang tinggi dan mengagumkan, namun menyimpan pelajaran berharga bagi kita semua.
Awal Kisah
Di desa Sidaurip, hiduplah seorang pengrajin bambu bernama Mbah Ragan. Ia sangat terampil membangun apa saja dari bambu: Cerita Ting Gegenting rumah, alat musik, bahkan menara pengawas. Namun, Mbah Ragan punya satu kelemahan—ia sangat suka dipuji.
Suatu hari, ia berkata pada warga desa, “Aku akan membangun menara bambu tertinggi yang pernah ada! Lebih tinggi dari pohon beringin tua di pinggir sungai!”
Warga awalnya tak percaya, tapi Mbah Ragan benar-benar mulai membangunnya. Ia menamakannya Ting Gegenting, karena ia ingin menara itu menjulang tinggi di atas segalanya—meski dasar bambunya dibuat asal-asalan agar cepat selesai.
Ting Gegenting Jadi Simbol Kesombongan
Setelah seminggu, menara itu pun berdiri. Tinggi sekali! Bahkan, dari atas menara, terlihat desa-desa lain di kejauhan. Mbah Ragan menjadi sangat sombong. Ia berkata pada anak-anak desa:
“Lihatlah! Siapa yang lebih hebat dariku? Tidak ada! Bahkan angin pun tak bisa menjatuhkan karyaku.”
Namun, kakek tua bernama Pak Kemis, yang bijak dan pendiam, memperingatkan, “Menara yang tinggi, bila dasarnya rapuh, tak butuh angin besar untuk runtuh.”
Tapi Mbah Ragan tertawa, “Itu cuma iri hati orang tua!”
Hari yang Menentukan
Beberapa hari kemudian, hujan deras turun. Angin kencang datang malam itu. Warga desa bersembunyi di rumah masing-masing. Pagi harinya, mereka keluar dan menemukan pemandangan mengejutkan.
Ting Gegenting roboh. Tidak hanya patah, tapi bagian-bagiannya berserakan dan menimpa ladang warga.
Mbah Ragan terduduk lesu. Ia tidak hanya kehilangan menaranya, tapi juga kepercayaan warga.
Akhir Cerita dan Pelajaran
Beberapa hari kemudian, Pak Kemis datang ke rumah Mbah Ragan dan berkata, “Bangunlah sesuatu yang baru, tapi mulailah dari dasar yang kuat. Tak perlu tinggi-tinggi, asal bermanfaat.”
Sejak itu, Mbah Ragan berubah. Ia mulai membangun rumah-rumah kecil dari bambu untuk warga miskin, dan berhenti membanggakan diri.
Ting Gegenting pun menjadi kisah turun-temurun, bukan tentang kemegahan menara, tetapi tentang kesombongan yang menjatuhkan, dan kebijaksanaan yang menyelamatkan.
📜 Pesan Moral:
- Kesombongan akan runtuh bila tidak didasari kerendahan hati.
- Sesuatu yang tampak hebat belum tentu kuat.
- Lebih baik membangun perlahan dan kokoh, daripada cepat dan rapuh.
- Orang bijak tak banyak bicara, tapi ucapannya menyelamatkan.
Dongeng Ting Gegenting mengajarkan kita bahwa kehebatan sejati tidak datang dari pujian, melainkan dari kebaikan yang kita berikan kepada sesama. Jadilah seperti Mbah Ragan yang mau belajar dari kesalahan dan memperbaiki dirinya.
Kalau kamu ingin versi ilustrasi, versi puisi, atau untuk teater anak-anak, saya bisa bantu juga. Ingin saya buatkan versi itu juga?