Si Pitung Di tanah Betawi pada akhir abad ke-19, hiduplah seorang pemuda bernama Pitung. Ia berasal dari Rawa Belong, tumbuh dalam keluarga sederhana yang penuh kasih sayang. Sejak kecil, Pitung dikenal rajin mengaji, sopan santun kepada orang tua, serta gemar menolong sesama.
Selain cerdas, Pitung juga memiliki tubuh yang kuat. Ia berguru ilmu silat kepada seorang guru terkenal bernama Haji Naipin. Dari sanalah Pitung belajar tidak hanya jurus-jurus silat, tetapi juga nilai keberanian, keadilan, dan rasa tanggung jawab terhadap rakyat kecil.
Penindasan Belanda
Saat itu, kehidupan masyarakat Betawi sangat menderita. Pajak yang tinggi, kerja paksa, dan perlakuan sewenang-wenang dari tuan tanah serta penjajah Belanda membuat rakyat hidup susah. Kaum kecil semakin miskin, sementara pejabat dan penguasa kolonial hidup mewah.
Melihat ketidakadilan itu, hati Pitung tidak bisa tinggal diam. Ia teringat pesan gurunya: “Ilmu silat bukan untuk gagah-gagahan, tapi untuk membela kebenaran.”
Si Pitung Membela Rakyat
Pitung pun mulai bertindak. Ia bersama kawan-kawannya—Ji’ih, Dji’ih, dan Rais—merampok harta para tuan tanah yang tamak dan orang-orang kaya yang menjadi kaki tangan Belanda. Namun, hasil rampokan itu tidak dipakai untuk dirinya sendiri. Semuanya dibagikan kepada rakyat miskin yang kelaparan.
Karena itulah, rakyat menjuluki Pitung sebagai “Robin Hood dari Betawi”—seorang jagoan yang berani melawan penjajah demi keadilan.
Kejaran Penjajah
Tentu saja, Belanda sangat marah. Mereka menganggap Pitung sebagai penjahat berbahaya. Berkali-kali upaya dilakukan untuk menangkapnya, tetapi Pitung selalu berhasil lolos berkat kecerdikan dan ilmu silatnya.
Namun, dalam sebuah pengkhianatan, keberadaan Pitung akhirnya terbongkar. Dengan tipu daya, Belanda berhasil menangkap dan menembaknya hingga gugur. Rakyat Betawi berduka, sebab mereka kehilangan pahlawan yang membela kaum kecil.
Warisan Si Pitung
Dongeng Si Pitung Walaupun jasadnya sudah tiada, semangat Pitung tidak pernah padam. Hingga kini, kisahnya terus diceritakan sebagai dongeng rakyat Betawi. Pitung menjadi simbol keberanian melawan ketidakadilan, serta teladan bahwa ilmu dan kekuatan sejati adalah ketika digunakan untuk membela rakyat.