Kisah Batu Menangis Di sebuah desa kecil di Kalimantan, hiduplah seorang ibu tua bersama anak perempuannya yang cantik jelita. Anak itu sangat manja, pemalas, dan tidak pernah membantu ibunya yang bekerja keras setiap hari. Meski begitu, sang ibu sangat menyayangi anaknya.
👧 Si Anak yang Malu Mengakui Ibunya
Suatu hari, sang anak diajak sang ibu pergi ke pasar. Karena mereka miskin, sang ibu hanya memakai kain lusuh dan membawa keranjang tua. Di tengah perjalanan, mereka bertemu banyak orang. Karena malu, anak itu berjalan jauh di depan ibunya.
Saat ditanya orang siapa wanita tua di belakangnya, sang anak menjawab,
“Bukan ibuku, dia hanya pembantuku.”
Sang ibu terkejut dan sakit hati. Namun ia tetap bersabar.
💔 Kutukan dari Langit
Berulang kali si anak mengingkari ibunya. Hingga akhirnya, sang ibu sudah tak mampu menahan kesedihan. Dengan berlinang air mata, ia berdoa pada Tuhan:
“Ya Tuhan, jika benar dia bukan anakku, biarlah Kau hukum dia.”
Tiba-tiba langit menjadi gelap, petir menyambar, dan hujan turun deras. Tubuh sang anak mulai mengeras. Ia ketakutan dan meminta ampun, tapi sudah terlambat. Dalam hitungan detik, tubuhnya berubah menjadi batu.
🪨 Batu Menangis
Sampai hari ini, penduduk desa mengatakan bahwa batu itu masih ada—berbentuk gadis muda yang menangis. Air mata mengalir dari permukaan batunya. Karena itu, batu tersebut dikenal sebagai “Batu Menangis.”
🎓 Pesan Moral
- Hormati dan akui orang tua, terutama ibu yang telah melahirkan dan membesarkan kita dengan cinta.
- Jangan pernah malu terhadap asal-usulmu. Kekayaan sejati adalah budi pekerti, bukan harta.
- Kesombongan dan kebohongan bisa membawa penyesalan yang abadi.
📚 Nilai Budaya
Dongeng Kisah Batu Menangis ini berasal dari Kalimantan dan termasuk dalam legenda rakyat yang turun-temurun. Ia mengandung unsur:
- Kearifan lokal: tentang nilai kesederhanaan dan cinta ibu.
- Cerita magis: kutukan dan perubahan manusia menjadi batu.
- Cerita lisan: disampaikan turun-temurun oleh para tetua desa.