Dongeng Rakyat Jawa Kisah Si Wuragil, Si Anak Durhaka yang Menyesal Terlambat

Dongeng Rakyat Jawa memiliki kekayaan cerita yang sarat pesan moral dan nilai budaya. Salah satu cerita rakyat dari tanah Jawa yang cukup melegenda adalah kisah Si Wuragil, seorang anak yang durhaka kepada ibunya dan akhirnya harus menanggung akibat dari perbuatannya. Dongeng Rakyat Jawa Cerita ini telah diwariskan secara turun-temurun dan banyak diceritakan sebagai pengingat pentingnya berbakti kepada orang tua.


🌾 Awal Kisah: Si Wuragil yang Malas dan Egois

Si Wuragil adalah seorang pemuda yang tinggal bersama ibunya di sebuah desa kecil di Jawa Tengah. Ibunya adalah seorang janda tua yang sangat menyayanginya. Sejak kecil, Wuragil dikenal sebagai anak yang malas bekerja namun suka berfoya-foya.

Ibunya bekerja keras di ladang agar Wuragil bisa makan dan hidup layak. Namun Wuragil tidak pernah menghargai jerih payah sang ibu. Ia sering meminta uang, mengeluh, bahkan kadang membentak tanpa alasan.


💰 Merantau dan Lupa Diri

Suatu hari, Wuragil merasa bosan tinggal di desa dan memutuskan merantau ke kota. Ibunya yang sedih tetap merelakan anak satu-satunya itu pergi, bahkan menjual barang terakhir yang dimilikinya demi bekal Wuragil.

Berbulan-bulan berlalu, Wuragil sukses. Ia menjadi pedagang kaya dan menikah dengan wanita cantik dari keluarga terpandang. Sayangnya, kekayaan itu membuatnya lupa akan ibu kandungnya.


💔 Pertemuan yang Menyayat Hati

Suatu hari, ibunya yang mendengar kabar kesuksesan Wuragil pergi menyusulnya ke kota. Ia ingin bertemu, sekadar melepas rindu. Saat melihat Wuragil di pasar, sang ibu memanggil penuh haru.

Namun, Wuragil justru malu dan berpura-pura tidak mengenalnya. Ia membentak dan menyuruh orang mengusir sang ibu tua yang lusuh dan letih. Hati ibunya hancur. Ia pulang dengan tangis tertahan.


⚡ Kutukan Ibu dan Akhir Tragis

Sesampainya di rumah, sang ibu sakit dan berdoa dengan air mata:

“Ya Tuhan, jika benar anakku tidak mengakuiku, biarlah ia merasakan akibat dari perbuatannya…”

Beberapa hari kemudian, bisnis Wuragil bangkrut. Rumah dan harta habis terbakar. Istrinya meninggalkannya. Ia terdampar miskin dan sendirian. Saat itulah ia sadar, bahwa dirinya telah melukai satu-satunya orang yang benar-benar tulus mencintainya: ibunya.

Ia kembali ke desa, tapi sudah terlambat. Ibunya telah meninggal. Ia hanya bisa menangis di kuburannya, menyesali dosa dan keangkuhannya.


📜 Pesan Moral dari Kisah Si Wuragil

Cerita Si Wuragil mengajarkan kita bahwa:

  • Berbakti kepada orang tua adalah kewajiban utama yang tak boleh ditunda.
  • Kesuksesan tanpa restu orang tua tidak akan membawa kebahagiaan.
  • Penyesalan selalu datang terlambat, maka selama orang tua masih hidup, bahagiakanlah mereka.

📚 Penutup

Cerita Si Wuragil bukan sekadar dongeng pengantar tidur, tapi warisan nilai luhur bangsa. Di tengah zaman modern, kisah ini tetap relevan untuk mengingatkan kita agar tidak melupakan jasa orang tua yang telah membesarkan kita tanpa pamrih.