Dongeng Ikan Patin Di sebuah desa kecil yang terletak di pinggiran Sungai Musi, hiduplah seorang janda tua bernama Mak Liah bersama anak laki-lakinya yang bernama Raman. Mereka hidup sangat sederhana, menggantungkan hidup dari hasil menangkap ikan di sungai.
🌾 Hidup Penuh Kesederhanaan
Mak Liah adalah ibu yang penyabar, rajin, dan penuh kasih sayang. Setiap hari ia memasak, menyiapkan peralatan menangkap ikan, dan mendukung Raman agar menjadi anak yang bertanggung jawab. Raman pun dikenal sebagai anak yang kuat dan pandai menangkap ikan.
Namun, seiring waktu, Raman tumbuh menjadi pemuda yang mulai berubah. Ia sering malas membantu ibunya dan lebih suka bermalas-malasan di tepi sungai sambil berangan-angan menjadi orang kaya.
🎣 Peristiwa Aneh di Sungai
Suatu hari, Raman memancing sendirian di hulu sungai. Ia memohon dalam hati:
“Andai aku mendapat ikan besar dan berharga, aku akan jadi kaya dan tak perlu hidup susah lagi.”
Tak lama kemudian, kailnya ditarik kuat. Dengan susah payah, Raman menarik pancingnya dan terkejut saat melihat seekor ikan besar bersisik perak muncul ke permukaan.
Anehnya, ikan itu tidak melawan. Ia memandang Raman dengan mata yang seolah berbicara. Tapi Raman tak peduli. Ia langsung membawa ikan itu pulang.
🔥 Ibu yang Menolak Memasak
Setibanya di rumah, Raman memerintahkan ibunya untuk segera memasak ikan itu.
“Bu, cepat masak ikan ini! Besok kita jual sisanya dan jadi kaya!”
Mak Liah melihat ikan itu dan langsung merasa aneh. Air matanya menetes tanpa alasan. Ia menolak memasaknya.
“Nak, ada yang tidak biasa dengan ikan ini. Matanya seperti manusia. Ibu tak sanggup memasaknya.”
Raman marah dan memaksa. Karena ibunya tetap menolak, ia pun membakar ikan itu sendiri.
Namun, saat ikan itu mulai terbakar, langit mendadak gelap, petir menyambar, dan angin kencang berhembus. Ikan itu tiba-tiba melompat ke sungai dan hilang. Raman terpental ke tanah.
Dari dasar sungai, terdengar suara bergema:
“Kau tak tahu berterima kasih! Aku adalah utusan sungai, datang untuk menguji keserakahan manusia!”
🌊 Hukuman dan Penyesalan
Sejak hari itu, Raman jatuh sakit. Tubuhnya lemah, dan ia terus mengigau tentang ikan yang menangis. Ia menyesali perbuatannya, namun semuanya sudah terlambat.
Warga desa mengatakan bahwa ikan yang dipancing Raman adalah jelmaan makhluk penunggu sungai, dan sejak kejadian itu, muncul spesies ikan baru yang memiliki ciri khas:
- Tidak bersisik
- Warna keperakan
- Dagingnya lembut dan tidak berduri tajam
Cerita Ikan Patin itu diberi nama “ikan patin”, dari kata “patih” (penjaga sungai), sebagai penghormatan pada makhluk sungai yang pernah menguji keserakahan manusia.
📝 Pesan Moral dari Legenda Ikan Patin:
- Jangan serakah, bahkan saat keberuntungan tampak di depan mata.
- Hormati alam, karena makhluk-makhluknya bisa saja memiliki kekuatan yang tak terlihat.
- Berbakti kepada orang tua adalah bentuk syukur yang paling mulia.
- Keberkahan datang dari ketulusan, bukan dari ambisi buta.