Cerita Rakyat Batu Menangis Di sebuah desa kecil yang subur di pedalaman Kalimantan, hiduplah seorang ibu tua bersama putrinya yang cantik. Sang ibu bekerja keras setiap hari: mencangkul ladang, menanak nasi, dan menjual hasil kebun ke pasar. Namun sayang, putrinya tumbuh menjadi gadis yang manja dan sangat pemalas.
Ia selalu memperhatikan penampilannya, mengenakan pakaian indah, dan tidak mau membantu ibunya. Terlebih, ia malu mengakui ibunya sendiri karena sang ibu sudah tua dan berpakaian lusuh.
🏞️ Perjalanan ke Pasar
Suatu hari, sang ibu mengajak anaknya pergi ke pasar di kota. Karena jaraknya jauh, mereka harus berjalan kaki melewati bukit dan sungai. Si anak pun setuju, dengan satu syarat: sang ibu harus berjalan di belakangnya, agar orang-orang tidak tahu bahwa perempuan tua itu adalah ibunya.
Setibanya di pasar, banyak orang mengagumi kecantikan si gadis. Namun, ketika ada yang bertanya siapa perempuan tua di belakangnya, si gadis menjawab dengan ketus dan penuh hinaan:
“Dia… pembantuku!”
😢 Hati Ibu yang Terluka
Sang ibu sangat terluka mendengar jawaban itu. Air matanya mengalir, tapi ia tetap diam demi menjaga hati anaknya. Namun, di dalam hatinya, ia berdoa kepada Tuhan agar anaknya diberi pelajaran agar tidak sombong dan durhaka.
Dalam perjalanan pulang, langit tiba-tiba menjadi gelap. Petir menyambar dan angin bertiup kencang. Si gadis ketakutan, namun ibunya tetap tenang. Saat hujan deras turun, tubuh gadis itu perlahan-lahan menjadi kaku, kakinya menyatu dengan tanah, tubuhnya membatu—hingga akhirnya seluruh tubuhnya berubah menjadi batu.
🪨 Batu yang Menangis
Sampai hari ini, masyarakat percaya bahwa batu itu masih ada di sebuah bukit, dikenal dengan nama Batu Menangis. Konon, saat hujan turun, batu itu mengeluarkan air seperti air mata, sebagai tanda penyesalan abadi dari seorang anak yang durhaka kepada ibunya.
📜 Pesan Moral
Cerita “Batu Menangis” mengajarkan kita:
- Hormati dan cintai orang tua, terutama ibu yang telah membesarkan kita dengan kasih sayang.
- Kesombongan dan keangkuhan hanya membawa penderitaan.
- Penyesalan datang terlambat, maka belajarlah untuk rendah hati dan bersyukur sejak dini.
📌 Asal Usul
Dongeng Batu Menangis ini berasal dari Kalimantan Barat dan merupakan salah satu cerita rakyat yang paling dikenal di Indonesia. Versinya bisa sedikit berbeda di tiap daerah, tetapi inti kisahnya tetap sama: tentang anak yang durhaka dan berubah menjadi batu karena kutukan ibunya.