Legenda Ular Kepala Tujuh Kisah Pahlawan dari Danau Tes

Ular Kepala Tujuh

Legenda Ular Kepala Tujuh Di era silam, berdiri sebuah kerajaan bernama Kutei Rukam di daerah Lebong, Provinsi Bengkulu. Raja Bikau Bermano memiliki delapan anak, termasuk putra mahkota Gajah Meram dan adiknya yang pemberani, Gajah Merik.


👸 Hilangnya Pangeran & Sang Putri

Pada upacara pernikahan Gajah Meram dengan Putri Jinggai dari Kerajaan Suka Negeri, Legenda Ular Kepala Tujuh terjadi insiden menghilangkan sang mempelai saat mandi di Danau Tes. Semua hulubalang gagal menemukan keduanya.

Dikabarkan, hilangnya disebabkan penangkapan oleh Raja Ular Berkepala Tujuh, penguasa gaib di dasar danau.


🧙‍♂️ Gajah Merik: Si Penebus

Meski baru sekitar 13 tahun, Gajah Merik berdiri sebagai pahlawan. Ia tak hanya menawarkan diri, tetapi juga menjalani pertapaan 7 hari 7 malam di Gua Tepat Topes guna memperoleh senjata pusaka: keris sakti dan selendang ajaib yang berubah menjadi pedang.


⚔️ Perjalanan ke Dasar Danau

Bersenjata keris dan selendang, Gajah Merik menyusuri gua bawah danau. Di setiap pintu gua ia menghadapi ular penjaga, dan berhasil menaklukkan mereka semua.


🐍 Duel dengan Raja Ular

Akhirnya Gajah Merik tiba di hadapan Raja Ular Berkepala Tujuh, yang mengajukan dua syarat:

  1. Menghidupkan kembali semua ular mati yang telah dikalahkan
  2. Mengalahkan dirinya dalam pertarungan

Dengan kekuatan dan kejeniusan, Gajah Merik memenuhi keduanya dalam pertempuran sengit yang berlangsung hingga tujuh hari, hingga sang ular menyatakan kekalahan dan memohon ampun.


🤝 Akhir Damai dan Kejayaan

Gajah Merik membawa kembali Gajah Meram dan Putri Jinggai ke istana. Raja mengadakan pesta besar selama tujuh hari tujuh malam, serta menyerahkan kepemimpinan kerajaan kepada Gajah Meram. Namun, Gajah Meram menolaknya, menghargai jasa Gajah Merik.

Akhirnya Gajah Merik dipilih menjadi raja, dan ia mengangkat Raja Ular serta pengikutnya sebagai hulubalang kerajaan.


🌿 Makna & Warisan Budaya

Legenda ini menyimpan beberapa pesan moral kuat:

  • Keberanian & pengorbanan (Gajah Merik menyelamatkan tanpa pamrih)
  • Kerendahan hati (meski sakti, ia tidak sombong)
  • Pengampunan (memaafkan Raja Ular dan mengangkatnya sebagai pelindung).

Hingga kini, masyarakat Lebong mempercayai bahwa ular kepala tujuh masih menjaga Danau Tes. Warga tak berani berkata sembarangan di dekat danau—pantangan lestari yang diwariskan turun-temurun.

Cerita Ular Kepala Tujuh bukan sekadar cerita fantasi, tetapi narasi nilai luhur: keberanian, ketulusan, dan kebijaksanaan. Ia menjadi bagian penting dari budaya Bengkulu, mengingatkan generasi sekarang untuk selalu menghormati alam dan warisan leluhur.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *