Cerita Kisah Rakyat Legenda Gunung Padang yang terletak di Kampung Ciaruteun, Desa Jatinangor, Kecamatan Cianjur, Jawa Barat, bukan hanya situs arkeologi terkenal, tapi juga pusat legenda rakyat Sunda yang kaya akan misteri dan keajaiban. Situs megalitik ini, yang terdiri dari teras-teras batu andesit berundak seperti piramida, telah menjadi inspirasi cerita turun-temurun di kalangan masyarakat Sunda. Legenda Gunung Padang sering dikaitkan dengan kerajaan kuno Sunda, dewa-dewa alam, dan asal-usul peradaban manusia, menggambarkan bagaimana situs ini dibangun oleh leluhur untuk menghormati kekuatan alam atau melindungi dari bencana.
Cerita rakyat ini pertama kali diceritakan oleh para tetua kampung melalui pantun Sunda dan wayang golek, dan dicatat dalam naskah kuno seperti “Carita Parahyangan” abad ke-16. Meskipun penelitian arkeologi modern, seperti yang dilakukan oleh Tim Peneliti Gunung Padang sejak 2010, menunjukkan usia situs hingga 20.000 tahun (kontroversial), legenda rakyat menambahkan lapisan magis yang membuatnya abadi. Legenda ini mengajarkan nilai-nilai seperti keselarasan dengan alam, keberanian, dan warisan leluhur. Berikut adalah versi lengkap kisah rakyatnya, diceritakan ulang dengan gaya naratif tradisional Sunda.
Kisah Legenda Gunung Padang
Awal Mula Kerajaan Sunda dan Sang Raja Bijaksana
Dahulu kala, di tanah Pasundan yang hijau subur, berdirilah sebuah kerajaan besar bernama Kerajaan Sunda Galuh yang dipimpin oleh Prabu Siliwangi, raja yang arif dan gagah berani. Prabu Siliwangi bukan hanya pemimpin yang adil, tapi juga penjaga alam yang suka bertapa di gunung-gunung suci. Suatu hari, saat musim kemarau panjang melanda, sungai-sungai mengering dan tanah retak-retak seperti kulit gajah yang haus. Rakyat kerajaan menderita kelaparan, dan Prabu khawatir kerajaannya akan lenyap ditelan bencana.
Dalam mimpi malam itu, Prabu Siliwangi dikunjungi oleh Batara Guru, dewa para dewa yang turun dari kahyangan. “Wahai Prabu, untuk menyelamatkan rakyatmu, bangunlah sebuah gunung suci dari batu-batu purba. Ia akan menjadi benteng melawan banjir besar yang akan datang dari laut selatan, dan sumber air abadi bagi keturunanmu,” kata Batara Guru. Prabu terbangun dengan hati bergetar, dan ia memanggil para tabib, dukun, dan raksasa-raksasa penjaga alam untuk membantunya.
Pembangunan Gunung Padang oleh Raksasa dan Manusia
Prabu Siliwangi memerintahkan seluruh rakyatnya untuk mengumpulkan batu-batu besar dari hutan dan sungai. Namun, tugas itu tak mudah; batu-batu itu berat seperti gunung kecil, dan hanya raksasa legendaris bernama Ciung Wanara yang bisa mengangkatnya. Ciung Wanara, putra Prabu yang hilang dan dibesarkan oleh harimau di hutan, kembali ke kerajaan untuk membantu. Bersama para pengikutnya, termasuk permaisuri Nyai Rarasantang yang bijak, mereka mulai membangun teras-teras undak di puncak bukit yang disebut Padang (artinya lapangan luas).
Legenda menyebutkan bahwa pembangunan ini berlangsung selama tujuh tahun tujuh bulan. Setiap malam, saat bulan purnama, roh-roh leluhur turun membantu, membuat batu-batu melayang sendiri ke tempatnya. Teras pertama dibuat untuk upacara sembahyang, teras kedua untuk tempat tinggal para resi, dan teras ketiga sebagai benteng pertahanan. Di puncaknya, Prabu Siliwangi menancapkan tongkat pusaka yang berubah menjadi pohon beringin suci, sumber air yang tak pernah kering. “Gunung ini bukan sekadar batu, tapi jiwa Pasundan yang hidup,” kata Prabu saat peresmian.
Tapi, tak semua berjalan lancar. Seorang penyihir jahat dari kerajaan saingan, bernama Sang Hyang Munggur, iri dengan kebesaran Prabu. Ia mengirim kutukan berupa gempa bumi dan longsor, membuat sebagian teras runtuh. Ciung Wanara, dengan keberaniannya, melawan penyihir itu dalam pertarungan magis di puncak gunung. Dengan bantuan dewa, Ciung menang, dan kutukan sirna. Sebagai balasan, Gunung Padang diberi berkah: air dari mata airnya bisa menyembuhkan penyakit, dan siapa pun yang bertapa di sana akan mendapat petunjuk ilmu pengetahuan.
Banjir Besar dan Warisan Abadi
Sesuai ramalan Batara Guru, suatu hari banjir besar datang dari Samudra Hindia, menghanyutkan desa-desa di sekitar. Rakyat Sunda lari ke Gunung Padang, dan teras-terasnya menahan air seperti tangan raksasa. Prabu Siliwangi memimpin doa bersama, dan pelangi muncul di langit, menandakan keselamatan. Setelah banjir surut, kerajaan bangkit lebih kuat, dan Gunung Padang menjadi pusat ziarah. Prabu Siliwangi menghilang secara misterius, katanya naik ke kahyangan, tapi rohnya tetap menjaga situs itu.
Hingga kini, masyarakat setempat percaya bahwa suara angin di teras Gunung Padang adalah bisikan Prabu Siliwangi, mengingatkan agar manusia menjaga alam. Legenda ini menjadi cerita pengantar tidur bagi anak-anak Sunda, sering diceritakan di sela-sela upacara adat seperti Seren Taun.
Makna dan Fakta Sejarah Legenda Gunung Padang
Simbolisme dan Pelajaran Moral
Legenda Gunung Padang sarat makna budaya Sunda. Ia melambangkan harmoni antara manusia, alam, dan roh leluhur – tema “silih asah, silih asih, silih asuh” (saling mengasah, menyayangi, dan mengayomi). Prabu Siliwangi sebagai tokoh utama mengajarkan kepemimpinan yang bijak, sementara Ciung Wanara mewakili keberanian generasi muda. Cerita ini juga memperingatkan tentang bencana alam, relevan dengan gempa dan banjir yang sering melanda Jawa Barat. Di masyarakat, situs ini digunakan untuk ritual tolak bala, dan pohon beringin di puncak dianggap keramat.
Fakta Arkeologi dan Kontroversi Modern
Secara historis, Gunung Padang ditemukan oleh peneliti Belanda pada 1914 dan ditetapkan sebagai cagar budaya nasional pada 1998. Penelitian terbaru oleh arkeolog seperti Danny Hilman Natawidjaja (2013) menggunakan georadar menunjukkan struktur buatan manusia setinggi 100 meter, dengan lapisan tanah purba yang berusia hingga 28.000 tahun – lebih tua dari Piramida Giza jika terbukti. Namun, ini kontroversial; beberapa ilmuwan internasional mempertanyakan metodenya. Legenda rakyat melengkapi fakta ini, menjadikan Gunung Padang sebagai “piramida hilang” Indonesia yang menarik wisatawan dan peneliti global.
Relevansi Saat Ini dan Pelestarian
Di era modern, legenda Gunung Padang semakin populer melalui film dokumenter seperti “Gunung Padang: Misteri Piramida Kuno” (2022) dan festival budaya di Cianjur. Pemerintah melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Barat mendorong wisata berkelanjutan, sambil melindungi situs dari kerusakan. Cerita ini menginspirasi generasi muda untuk belajar sejarah dan menjaga lingkungan, terutama di tengah isu perubahan iklim.
Rakyat Legenda Gunung Padang Hingga kini, setiap kali Anda mendaki teras Gunung Padang dan merasakan angin sepoi, ingatlah legenda Prabu Siliwangi – bahwa misteri masa lalu adalah fondasi masa depan. Kisah rakyat seperti ini adalah warisan tak ternilai Nusantara, patut dijaga dan diceritakan lagi. Selamat menjelajahi misterinya!