Cerita Dongeng Rakyat Putri Ular dari Simalungun (Versi Terbaru 2025)

Cerita Dongeng Rakyat

Cerita Dongeng Rakyat Dahulu kala, di bawah lembah dan perbukitan hijau dekat Danau Toba, berdirilah sebuah kerajaan di tanah Simalungun yang makmur dan damai. Kerajaan tersebut dipimpin oleh seorang Raja bijaksana yang sangat dihormati rakyatnya karena keadilannya. Ia dan permaisuri hidup bahagia bersama putri tunggal mereka—seorang putri cantik jelita yang menjadi kebanggaan negeri 

Pesona dan Bahaya Ucapan Kasar

Putri ini memang ayu rupawan, bahkan kecantikannya terdengar hingga negeri seberang. Namun, dibalik wajah lembutnya tersimpan sifat yang membuat khawatir: ia suka melontarkan ucapan buruk. Berulang kali sang Ratu mengingatkannya untuk berhati-hati, “Apa yang kau ucapkan bisa jadi kenyataan,” demikian nasihat sang ibu.

Lamaran Sang Pangeran

Berita tentang kecantikannya sampai pada telinga seorang raja muda yang tampan. Dia pun segera melamar, dan Raja Simalungun menyetujuinya—karena pernikahan itu akan mempererat hubungan antar kerajaan.

Malapetaka Saat Mandi

Dalam persiapan menuju pernikahan, setiap pagi sang Putri mandi di kolam belakang istana sambil ditemani dayang-dayang. Suatu hari, ketika tengah membayangkan kebahagiaan di pelaminan, tiba-tiba sebuah ranting jatuh dan melukai hidungnya. Darah mengalir, hatinya hancur. Pikirannya langsung menerka bahwa pernikahan akan batal, dan keluarganya akan malu di hadapan rakyat.

Doa yang Terbalas Petir

Dipenuhi rasa bersalah dan putus asa, sang Putri menengadahkan tangan, memohon hukuman dari Tuhan. Tak disangka, petir menyambar, dan tubuhnya mulai dilapisi sisik ular—dari kaki hingga tubuh, hingga akhirnya layaknya makhluk melata.

Kepergian Tanpa Kata

Para dayang tak berani mendekat dan segera melapor kepada Raja dan Ratu. Saat keduanya datang, hanya seekor ular besar yang bergulung di batu tempat sang Putri biasa duduk. Ular itu menatap mereka dengan tatapan penuh penyesalan, tak bisa berkata apa-apa, lalu perlahan merayap menghilang ke dalam hutan. Tewaslah kekasih kerajaan yang pernah bersinar.


Unsur Intrinsik

UnsurDetail
TemaBahaya ucapan sembarangan dan penyesalan sebagai bahan introspeksi
Tokoh– Putri: awalnya cantik namun emosional dan suka mengutuk

- Raja & Ratu: bijaksana dan penuh kasih - Dayang-dayang: saksi cemas atas perubahan tragis |

| Latar | Kerajaan di Simalungun—istana dan kolam mandi di belakang istana sebagai tempat kunci |
| Alur Cerita | – Awal: lamaran dan persiapan
– Konflik: insiden ranting dan luka hidung
– Klimaks: doa putus asa + perubahan menjadi ular
– Resolusi: kesedihan Raja & Ratu, sang Putri menghilang |

Pesan Moral

  1. Hati-hati dengan ucapan: Ucapan yang sembrono bisa membawa penyesalan besar.
  2. Jangan meremehkan konsekuensi emosi: Dampak dari amarah dan kesedihan bisa sangat luas.
  3. Bersyukur pada penampilan dan keadaan: Setiap anugerah harus dihargai, bukan dikeluhkan.

Cerita Putri Ular dari Simalungun tetap relevan di era 2025 karena mengingatkan kita bahwa kekuatan kata-kata dan sifat emosional bisa menggoyahkan takdir seseorang. Dalam dunia modern, ia juga mengajak kita untuk introspeksi terhadap ujaran sehari-hari dan menghargai diri sendiri secara menyeluruh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *