Cerita Rakyat Indonesia Dahulu kala, di sebuah desa kecil yang subur, tinggallah seorang pria miskin bernama Juna. Ia hidup sendiri di gubuk reyot di pinggir hutan. Setiap hari ia bekerja sebagai buruh tani, tapi hasilnya tak seberapa. Meski miskin, Juna dikenal sebagai orang yang sering mengeluh dan selalu merasa kurang.
Suatu pagi saat mencari kayu bakar, ia menemukan sebuah kendi tua di balik semak. Karena penasaran, ia membukanya—dan ajaib! Kendi itu ternyata bisa menggandakan apapun yang dimasukkan ke dalamnya.
💰 Keserakahan Dimulai
Cerita Rakyat Indonesia Awalnya Juna memasukkan sebuah roti ke dalam kendi. Tak lama, roti itu berkembang biak menjadi dua, lalu empat, lalu delapan! Ia sangat gembira dan berkata dalam hati, “Akhirnya aku bisa hidup senang!”
Ia mulai memasukkan beras, emas, bahkan uang ke dalam kendi. Dalam waktu singkat, rumahnya penuh harta benda. Ia tidak lagi bekerja dan mulai meremehkan tetangga. Tapi semua itu belum cukup bagi Juna.
“Kalau ayam bisa digandakan, kenapa tidak aku sendiri?” pikirnya tamak.
🔄 Akibat Ketamakan
Juna kemudian mencoba masuk ke dalam kendi agar ia bisa menggandakan dirinya. Tapi karena kendi itu bukan untuk manusia, tiba-tiba ia tertutup dan menghilang ke dalamnya.
Kendi itu pun meledak dan semua harta yang digandakan lenyap. Gubuknya kembali kosong. Tak ada yang tahu ke mana Juna pergi—ia lenyap ditelan keserakahan.
🧠 Pesan Moral Cerita Si Miskin yang Tamak
- Jangan serakah. Rezeki harus disyukuri, bukan diraup berlebihan.
- Tamak bisa menghancurkan segalanya.
- Kekayaan sejati bukan dari benda, tapi dari hati yang merasa cukup.
- Berbagi lebih baik daripada menimbun.
📚 Untuk Siapa Dongeng Ini Cocok?
- Anak-anak (usia 6–12 tahun) sebagai cerita pengantar tidur dengan nilai moral tinggi.
- Guru dan orang tua untuk mengajarkan soal syukur dan batas keinginan.
- Pengembangan karakter di sekolah dasar, terutama pelajaran PPKn atau agama.
Cerita Si Miskin yang Tamak mengingatkan kita bahwa harta bukanlah segalanya. Saat kita terus mengejar lebih dan lebih, kita bisa kehilangan segalanya. Maka, bersyukurlah dengan apa yang dimiliki, dan jangan biarkan keserakahan menelan akal sehat kita.