Dongeng Gunung Agung di Bali bukan hanya gunung berapi aktif, tetapi juga simbol spiritual dan sakral. Dalam dongeng kuno yang dituturkan turun-temurun, Gunung Agung dikaitkan dengan kisah perang para dewa yang menentukan keseimbangan dunia.
Awal Mula Kisah
Pada zaman purba, dunia diguncang ketidakseimbangan antara langit dan bumi. Para dewa di kahyangan—dipimpin oleh Batara Guru—merasa bahwa dunia manusia dipenuhi keserakahan dan lupa akan ajaran dharma (kebenaran). Sementara itu, dewa laut, Baruna, dan dewa angin, Bayu, berselisih paham mengenai pengaturan unsur alam.
Ketidakharmonisan ini memicu perang besar di alam dewa. Gunung Mahameru, gunung suci para dewa, mulai goyah akibat pertempuran dahsyat tersebut. Para dewa khawatir dunia akan runtuh.
Penciptaan Gunung Agung
Untuk memulihkan keseimbangan, Dewa Wisnu menyarankan agar sebagian puncak Mahameru dipindahkan ke tengah samudra selatan. Dengan bantuan Dewa Brahma dan Naga Basuki, puncak tersebut dibawa melewati langit dan samudra, lalu ditancapkan di Bali. Sejak saat itu, puncak baru ini disebut Gunung Agung—gunung yang agung dan suci.
Basuki, naga penjaga dunia, melilitkan tubuhnya di bawah gunung untuk menstabilkan pulau agar tidak tenggelam. Para dewa kemudian mengakhiri perang mereka, menyadari bahwa harmoni hanya bisa tercapai melalui keseimbangan dan kerja sama.
Makna Filosofis
- Keseimbangan Alam – Gunung Agung menjadi pengingat pentingnya menjaga hubungan harmonis antara manusia, alam, dan para dewa.
- Gotong Royong dan Persatuan – Perang para dewa berakhir damai karena kesadaran bahwa kerjasama lebih kuat daripada konflik.
- Kesakralan Gunung Agung – Hingga kini, Gunung Agung dianggap pusat spiritual Bali dan tempat bersemayam para dewa, tercermin dalam ritual besar di Pura Besakih.
Nilai Budaya Bagi Generasi Muda
Legenda ini mendorong generasi penerus Bali untuk tetap menghormati alam dan adat. Dalam setiap upacara di Pura Besakih, doa-doa dipanjatkan agar keseimbangan dunia tetap terjaga, mengingatkan semua orang akan kisah perang para dewa yang melahirkan Gunung Agung.
Penutup
Legenda Gunung Agung dan perang para dewa bukan sekadar dongeng masa lalu, tetapi cermin filosofi hidup masyarakat Bali: menjaga harmoni, menghormati alam, dan memupuk persatuan. Kisah ini terus hidup dalam seni tari, cerita wayang, dan ritual, menjadi bagian penting dari identitas budaya Pulau Dewata.